Jadi weekend itu, seperti weekend sebelumnya. Angin masih bertiup. Matahari masih panas, dan kebetulan masih pesta diskon. Dan saya masih ganteng. Ehm. Saya menemani pacar melihat-lihat sepatu.
Sepanjang pengamatan saya yang sudah bertahun-tahun menemani pacar mencari sepatu (lama sekali, bukan?), ada dua golongan pria yang bisa ditemui:
1. Mereka yang duduk di kursi atau bersandar di pagar di luar toko.
2. Mereka yang berdiri menemani ke manapun pasangan pergi.
Untuk golongan kedua, ada dua kemungkinan:
a. Mereka setia dengan pasangan, dan punya tingkat kepahaman tinggi masalah fashion yang buat saya agak mencurigakan.
b. Mereka tidak kebagian tempat duduk untuk diduduki atau pagar untuk disandari.
Saya yang saat itu termasuk golongan 2b merasa sirik luar biasa terhadap golongan 1. Bukannya apa-apa, hanya saya kebetulan sedang memikul belanjaan satu ton dan duduk adalah pilihan terbaik buat fisik saya.
Rupanya Tuhan mendengar jeritan hati saya. Seperti di film layar lebar, sebuah lampu sorot toba-tiba menyinari tempat duduk kosong di kejauhan. Bahkan sepertinya film itu menggunakan tata suara THX, sebab sayup-sayup saya mendengar paduan suara mendendangkan nada khidmat penuh kemenangan, “Haaaa…”
Suara itu makin lama makin dekat. Saya menoleh dan mendapati sosok berukuran kulkas dua pintu sedang bergegas menuju kursi kosong itu. Seperti film gerak-lambat, kami berdua berlomba menuju garis finish yang empuk itu.
Si kulkas kemudian menatap saya penuh intimidasi. Dengan napas tersengal-sengal dia berlari sekuat tenaga. Tampak keringat bercucuran dari mulutnya dan iler bertetesan dari bajunya. Saya langsung berhenti karena dua alasan:
1. Saya tidak ingin baju saya ternodai.
2. Saya tidak pernah disuntik anti-rabies.
Dari satu toko sepatu ke toko sepatu lainnya, begitulah perjalanan hidup menemani sang pacar mencari sepatu, dan saya mencari tempat duduk. Sampai akhirnya di sebuah toko, sang pacar meminta saya mencari nomor kode sepatu yang dia taksir.
Memang, toko sepatu itu begitu larisnya hingga selain selalu ramai pengunjung, rak bagian atas dan bawahnya bertumpukan kotak-kotak sepatu untuk memudahkan siapapun menemukan sepatu yang diincar.
Saya pun mulai mencari di rak terbawah, sebab nomor kode yang dimaksud adanya di daerah bawah. Karena ramai, maka banyak pula wanita-wanita berdiri di depan rak menghalangi pandangan saya. Tapi karena taruhannya nyawa, saya sebisa mungkin harus menemukan sepatu itu.
Tiba-tiba suara memekakkan telinga menyerang kuping saya.
“Mas, jangan kurang ajar ya.. liat-liat pantat saya! Saya panggil sekuriti lho!” seru seorang wanita muda.
Saya terkejut dan menjawab dengan bodoh, “Saya cuman nyari yang besar...”
“Kurang ajar banget sih bilang pantat saya besar!” teriak wanita muda berpantat besar itu.
“Dasar cabul! Laporin aja tuh,” seorang wanita lain ngompor-ngomporin, menambah keruh suasana. Minta dilempar kompor!
Setelah dijelaskan bahwa saya sedang mencari nomor kode sepatu dan menunjuk pacar saya sebagai bukti, wanita muda berpantat besar itu pun kembali tenang. Sedangkan wanita kompor tadi kabur entah kemana. Padahal saya tidak benar-benar ingin melemparnya dengan kompor. Saya hanya ingin menjulurkan lidah ke arahnya, itu saja.
Terus terang kejadian itu justru memberi ide buat saya untuk bebas mengamati pantat. Akibatnya, belakangan saya jadi semangat bila diminta menemani pacar mencari sepatu. Untung saja sampai saat menulis ini, sang pacar tidak mengetahui motivasi saya yang sesungguhnya. Bisa-bisa saya ditemukan terkapar setelah jatuh dari lantai 12A.
Sebentar, sepertinya saya baru saja melakukan kebodohan…
6 comments:
HAKAKAKAKAKAKAK… boooowk.. ember beneerr.. ini mengingatkan gw yang dua minggu yang lalu sibuk mencari sepatu kerja warna hitam yang depannya bulet dan berbahan kulit dan tentunya, harus nyaman dan sophisticated. Segala macam mol dan bazaar disambangi, namun gak ketemutemu juga sampe co gw stress mampusss dan nampaknya trauma denger katakata “ay, hari ini temenin aku cari sepatu yaaa..”
Setelah dua minggu lebih berlalu, dan untungnya dia selalu dapet kursi atau senderan, gw beli juga sepatu berbahan kulit di mol pertama yang kita kunjungi. Sayang depannya lancip. Hmmm.. apakah itu tandanya gw harus melakukan sesi tambahan untuk cari yang bulet lagi? *Tempting, tempting.. HAHAHA..*
Mas Pip, beli sepatunya di mana? Saya nggak tertarik beli sepatu sih. Cuma itu tuh, tertarik sama adegan tertabrak pantat-pantat wanita muda...he he he
Die Evil..DIE! Hehehe...
Sepatu selalu melambai-lampai ke gue minta dibeli ketika gue berada di mall...
maukah kok menggambar ilustrasi ato melakukan adegan reka ulang bersamaku pip? FYI.. aku penggemar pantat besar dan ingin sekali berada di posisimu waktu itu...
btw, pa kabar bro?
baca The Average American Male by Chad Kultgen. pasti lo merasa senasib :) bukan yang cuma bagian erotisnya ya.tapi isi buku itu pikiran cowok banget.
Post a Comment