“Say, ini namanya sushi,” kata saya waktu itu sambil mengangkat sepiring Aburi Salmon ke depan wajahnya. “Sushi, ini pacarku,” lanjut saya sambil mengangkat tangan pacar ke arah si salmon. Akhirnya mereka pun saling berkenalan dengan cara yang brutal. Gimana nggak, pacar saya tanpa ba-bi-bu langsung melahap kenalan barunya itu.
Sejak saat itu, pacar saya langsung jatuh cinta sama sushi. Tadinya saya sempat merasa tersaingi. Tapi setelah diyakinkan bahwa sang pacar lebih jatuh cinta sama saya dan tidak punya keinginan untuk melahap saya sedikitpun, saya pun kembali tenang.
Perkenalan saya dengan sushi sendiri sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tidak dimulai dengan mimpi atau kejadian supranatural lainnya. Simpel saja. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SD kelas 1, sepulang sekolah dijemput oleh ibu sepulang belanja di supermarket. Namanya anak kecil, tas belanjaan wajib diubek-ubek. Dan saya menemukan sebungkus daging ikan fillet yang langsung saya telan*.
Otomatis ibu saya kaget setengah mati, dan langsung memberikan pernyataan paling tidak masuk akal di telinga saya saat itu. “Dik, kalo mau makan yang mentah, makan sushi aja,” begitu kata ibu saya.
Saya langsung protes. “Tapi, tapi.. Susi kan gede!” sela saya sembari menyubit sosok teman saya yang paling bongsor supaya bersuara. “Iya, iya.. Susi emang gede.. puas?!” jerit Susi.
Untungnya sushi yang dimaksud oleh ibu saya bukanlah Susi teman SD itu. Jadi, saya tidak sampai membayangkan bagaimana susahnya membuka rahang lebar-lebar untuk menelan Susi yang bulat itu bulat-bulat.
Orang tua saya pun lantas membawa saya ke sebuah restoran sushi. Alih-alih langsung berkenalan sama sushi yang saya masih belum kebayang rupanya itu, orang tua saya malah memberikan dua batang kayu seukuran pensil, yang tentunya langsung saya gigit. Karena pertimbangan saya kalau ditelan pasti nyangkut di tenggorokan.
Tanggap melihat kelakuan saya, Ibu saya langsung bilang, “Dik, bukan itu sushi-nya. Itu namanya sumpit. Bahasa Inggrisnya chopstick, inget.. chopstick! Sumpit itu gunanya kayak sendok, buat makan juga. Ibu ajarin ya cara makenya…” Ya, ibu saya memang selalu mencari kesempatan untuk mengajarkan kosakata bahasa Inggris ke saya, apa pun itu.
Memang saya tidak langsung bisa memakai sum, eh, chopstick seperti yang diajarkan ibu saya. Tapi saya begitu bertekad untuk mempelajarinya sampai-sampai saya lupa tujuan utama ke restoran itu, yaitu makan sushi.
Segala gaya saya praktekkan untuk sekadar memasukkan sushi ke dalam mulut dengan sumpit. Gaya menusuk berhasil memasukkan sepotong sushi rol ke dalam mulut, tapi gagal di percobaan kedua. Gaya memilin hanya membuat sushi-nya berputar-putar. Gaya memukul berhasil membuat sushi jadi berantakan. Akhirnya saya menemukan gaya paling sempurna, gaya menjepit, dengan jari tangan!
Sama seperti pacar saya, pertama kali saya merasakan nikmatnya sushi, saya langsung jatuh cinta. “I love you, sushi,” ujar saya saat itu. Jelas ucapan saya barusan membuat orang tua saya bangga. Karena selain saya bisa melafalkan bahasa Inggris dengan lancar, saya juga dianggap sudah beranjak dewasa. “Wah, Pak.. anak kita ternyata naksir si Susi,” kata ibu. Saya langsung tersedak.
Kini saya tentu sudah mahir menggunakan sumpit. Bahkan demi mendukung kecintaan terhadap sushi, saya dan pacar sepakat membeli sumpit sendiri. Pacar saya punya alasan tersendiri mengenai keputusan ini.
“Coba hitung berapa banyak pohon dan bambu yang ditebang hanya untuk sumpit sekali pakai? Ini saatnya kita peduli lingkungan. Reduce, reuse, recycle,” sahut pacar saya berkobar-kobar dengan tangan terkepal di udara. Saya bertepuk tangan. Pacar saya nendang.
Buka puasa beberapa saat yang lalu kami jadikan ajang perdana bagi sumpit-sumpit kami. Setelah memesan tempat di sebuah restoran sushi ternama di ibukota, kami pun menunggu. Maklum, kami dapat urutan 53, sedangkan yang dibolehkan masuk baru nomor 20-an.
Dan saat itu pun tiba, sushi terhidang di meja, sumpit di tangan, semua terasa sempurna. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa sumpitnya terlalu kecil dan licin untuk tangan saya. Maka setelah lelah mengejar sushi yang lari kesana-kemari, dengan terpaksa saya memakai sumpit sekali pakai. Wajah pacar saya langsung cemberut. Wajah saya juga langsung berkerut, begitu menyadari sebuah tendangan mendarat di mata kaki saya. Tapi itu tidak menghalangi saya untuk menelan sushi lezat bulat-bulat… nikmat! ***
* Beberapa bagian dari cerita ini memang sengaja dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangkan, tapi tanpa mengurangi makna. Seperti saat saya menelan daging mentah itu, faktanya sebelum menelan saya membaca Bismillah terlebih dahulu.
4 comments:
Dan bayangkanlah kegirangan penggemar sushi saat tahu bahwa penulis buku Shangri-la Diet berteori kalau kita makan sushi doang, kita akan bisa mengurangi berat badan. (Kecuali bagi penggemar sushi yang memang sudah defisit berat badan.)
Mereka lupa satu hal penting, Man. Itu hanya terjadi di Shangri-La alias surga.
Pip...
Suka makan Sushi di mana?
Ada referensi tmpt enak ga?
Standar lah...
Kalo saya mengurutkan berdasarkan seringnya makan di mana:
1. Sushi Tei
2. Sushigroove
3. Poke Sushi
4. Sushi Nobu
Semuanya enak dengan plus-minusnya. Keputusan saya makan di mana lebih dikarenakan sedang berada di mana, bukan pengen di mana. Begitu...
Post a Comment