Thursday, October 27, 2011

Termotivasi dan Terintimidasi

Dua kata di atas memiliki makna yang berbeda tapi punya satu kesamaan: sama-sama jadi judul artikel ini. Selain itu, karena kedua kata itulah saya memutuskan untuk kembali mengasah keterampilan menulis saya. Terampil di sini maksudnya bukan menulis sambil melakukan kegiatan akrobatik, normal saja, kedua tangan di atas papan ketik, mata menatap monitor dan pantat menempel di toilet.
Saya termotivasi karena rupanya membaca kembali tulisan-tulisan saya yang lama memunculkan kembali rasa rindu akan ngeblog. Mungkin perumpamaan yang sedikit mirip adalah seperti saat melihat kembali foto-foto mantan dan teringat masa-masa indah bersamanya. Bedanya, rindu akan ngeblog tidak berisiko digugat cerai oleh pasangan. Kecuali bila ngeblog tentang mantan cantik... yang meninggalkan kesan mendalam... dan... Oke, sebaiknya saya berhenti sampai di sini.
Ngeblog buat saya dulu adalah sarana bercerita, melampiaskan ide, uneg-uneg, kegalauan atau sekadar menyampah. Namun seiring dengan kesibukan, saya membutuhkan sarana yang lebih praktis dan cepat diakses. Sarana itu bernama Twitter.
Di sebuah kota di Amerika, tahun 2006.
Tokoh Tidak Penting Yang Tak Perlu Repot Diberi Nama (TTPYTPRDN) 1: “Gue pengen ngeblog tapi gue gak punya waktu buat nulis panjang-panjang.”
TTPYTPRDN 2: “Kita bikin aja blog khusus buat tulisan pendek.”
TTPYTPRDN 1: “Ide yang bagus, TTPYTPRDN 1! Kita serahkan saja tugas bikin sistemnya pada si Tokoh Wajib Ikut Tertulis agar TEtap Relevan. Sudah ada usulan nama?”
TWITTER: “Yang jelas sih namanya nggak akan menggelikan dan maksa seperti penokohan di cerita ini.”
Saya memang mengakui bahwa segala kemudahan yang ditawarkan oleh Twitter mengurangi kemampuan saya untuk menulis panjang. Bahkan twit saya yang hanya menggunakan dua kata, seperti “Tititku gatel”, mampu mendapat respon begitu luar biasa. Bandingkan dengan tulisan di blog yang memakai ratusan bahkan ribuan kata, bisa mendapat tanggapan satu orang saja sudah lumayan.
Makanya kini saya merasa terintimidasi untuk membuat blog yang mampu bersaing dengan kehebatan sebuah titit gatel. Tapi saya sadar bahwa itu tidak bisa dilakukan cepat, karena:
  1. Titit saya beneran gatel.
  2. Dan mengetik dengan satu tangan, sementara tangan satu lagi menggaruk, itu lambat.

2 comments:

efahmi said...

Wahihi, update lagi blog ini :D

TTPYTPRDN 3 said...

wkwkwk....

lanjut lg bang...