Tuesday, May 23, 2006

Kiss my ass before you pass

Ambulance, fire truck, and a police escort have the priority to pass on the road. That I could live with.

But a prisoner bus? I don't think so.

It happened to me couple of times. This monstruous vehicle zig-zagging its way through the heavy traffic, honking everything in front of it like a bowling ball striking all the pins down.

Who the hell is inside this thing? They're prisoners, for God's sake! They were all bad guys who get punished. They should suffer being on a traffic jam much worse than the rest of us. They should learn their lesson, not to have privileges to get to the prison faster than we go home. How come we have to get trapped when they got to go freely? Who's the prisoner really anyway?

Then comes this funeral parade. I don't know what was inside their mind, but they set tight schedule for the dead: meet several relatives, make up artist, dress stylist, and an interview session with the angels before they fly to heaven, or hell. They suddenly have the permit to go in a rush. They think the dead need a reference, so they stop the traffic and make it dead. After all, they don't want the dead to be called "The late Mr/Mrs Someone" for nothing.

When it's time to leave, then leave peacefully. That means leaving everything in peace.

Thursday, May 18, 2006

Cewek Cantik Justru Jarang Dilirik

Itu menurut sebuah survey. Anda mungkin tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Dan itu bisa dibuktikan oleh data yang akurat.

Bagi Anda yang cewek, lebih-lebih yang sering dilirik karena cantik, atau yang merasa dirinya dilirik ternyata hanya kambing mengembik, atau yang begitu ingin dilirik hingga mengembik, posting ini tentu menjadi wajib untuk diulik.

Bagi Anda yang cowok, lebih-lebih yang suka melirik cewek cantik, atau yang sering merasa melirik cewek cantik ternyata hanya bajaj antik, atau yang sering mengembik menarik perhatian si cantik, posting ini akan membuat hidup Anda lebih baik.

Survey yang dilakukan oleh seorang ahli yang dulu bersama gua ikut membidani halaman khusus survey di Jawa Pos ini memang cukup mengundang kontroversi, karena:
1. Definisi cantik itu subyektif.
2. Cantik itu relatif.

Namun, Danang Arradian, teman gua yang ahli itu, punya jawabannya:
1. Survey ini dilakukan cowok dengan responden cowok, jadi memang subyektif.
2. Jelek itu absolut (tanpa vodka, meski itu merupakan nilai tambah).


Danang yang kini mengisi halaman lifestyle di harian Seputar Indonesia ini mengatakan bahwa survey ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi. "Gua suka dengan cewek yang cantik, agak tomboy dengan sense of style yang oke, dan hobi travelling. Kalau melihat cewek dengan ciri-ciri seperti itu, gua secara otomatis akan meliriknya. Nah, kalau sudah begitu, gua sering melihat beberapa cowok juga melirik ke arah yang sama, semua saling bersaing. Itulah mengapa ada survey ini, untuk memenangkan persaingan," jelasnya.

Lebih lanjut, cowok yang biasa dipanggil Dan ini mengungkapkan bahwa 4 dari 5 responden mengaku jarang melirik cewek cantik karena pengaruh pasangannya. Menurutnya, banyak responden menderita tekanan batin setelah berpasangan. "Beberapa malah menderita secara fisik ketika melirik yang cantik, entah itu baju robek karena ditarik atau lengan membiru karena dicubit. Bahkan kasus yang ekstrem, ada responden yang ditampar ketika lirikan mulai mengarah ke bagian tubuh si cantik dan mengacuhkan pasangannya," ujar cowok yang masih single ini.

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita dapat dari hasil ini?

Untuk cewek, silakan tanya jawab dengan Dan melalui email xevildanx(at)yahoo(dot)com atau lewat Yahoo! Messenger dengan id yang sama. Kunjungi juga blog http://danevils.blogspot.com untuk mengenal lebih jauh tentang sosoknya.

Oh, by the way, survey ini belum pernah dilakukan kok. Postingan ini juga cuman karangan gua, sekadar membantu teman yang kini sedang berusaha mencari kenalan cewek.

Untuk cowok, postingan ini adalah salah satu cara untuk menarik perhatian cewek, terutama yang cantik, tanpa harus melirik. Siulan dan sapaan usil itu nggak banget, man! Selain bikin cewek risih, hal itu tidak akan meningkatkan daya jual lo.

Terakhir, kenalan ke gua juga boleh. Tapi harus cantik ya!

Tuesday, May 16, 2006

Kaus Imut Lutu-lutu!

Seorang teman lama menyebutkan judul di atas dalam sebuah chatting nggak penting, beberapa waktu lalu. "Lo inget nggak sama judul itu?" ujarnya disertai smiley tertawa ngakak, ngajak berantem.

Kami memang nggak jadi berantem --walau pengen-- karena jarak yang jauh, tapi gue jadi terangsang untuk menganalisanya.

Itu adalah sebuah headline artikel utama di halaman fesyen remaja di surat kabar tempat gue kerja dulu.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah persuratkabaran nasional, setidaknya dalam sejarah surat kabar tersebut, sebuah headline menggunakan bahasa aneh. Kenapa aneh? Karena itu bukan bahasa baku, bukan pula termasuk slang, apalagi bahasa isyarat. Melainkan sebuah ucapan.

Gue akui, waktu itu judul tersebut terdengar norak, kampungan, dan jayus. Sekarang juga terdengar sama sih. Tapi, bukan itu poinnya. Gue percaya kalau ucapan seperti itulah yang sering terlontar dari mulut remaja cewek ketika melihat sesuatu yang mereka suka. Paling nggak saat itu demikian.

Dan karena target pembacanya adalah mereka-mereka juga, gue nggak ragu-ragu memaksakan judul itu keluar.

Sebagai polisi EYD, tentu yang bakal pertama kali protes terhadap headline tersebut adalah para copy editor. Maka, headline tersebut sengaja gue "simpan". Pada saat rapat redaksi, gue cuman menyebutkan garis besar tema halaman fesyen gue. Bahkan saat proses lay-out pun, gue terpaksa membujuk sang lay-outer untuk segera mengirimkannya ke bagian cetak tanpa persetujuan redaktur yang lain.

Efeknya dahsyat. Selama seminggu lebih setelah kemunculan artikel tersebut, kami menerima banyak surat dari pembaca yang mengaku senang dengan artikelnya. Bahkan telepon tak henti-hentinya berdering hanya untuk menanyakan di mana mereka bisa mendapatkan kaus-kaus "lutu" itu.

Barulah pada saat itu salah seorang redaktur senior memanggil gue. "Judul artikel minggu lalu itu salah cetak. Kok nggak dicek dulu sih?" protesnya. Gue cuman tersenyum dan menjelaskan bahwa itu memang disengaja, dan wajar saja kalau baru ngeh setelah seminggu lebih, lha wong target pembacanya bukan dia kok.

Terlepas dari muatan artikel tersebut, gue percaya bahwa untuk menarik perhatian pembaca, selain headline yang kuat dan striking, juga harus "dekat" dengan target audience-nya. "Ini halaman khusus buat anak muda, so think young and be young," itulah yang selalu gue tekanin ke anak buah gue dulu.

Ilmu yang sama berlaku di profesi gue sekarang. Namanya juga copywriter, tugasnya ya menciptakan copy yang kuat dan striking, dengan ide yang --meminjam istilah Budiman Hakim dalam buku "Lanturan Tapi Relevan"-- melantur sejauh-jauhnya tapi harus sedekat mungkin relevansinya.

Menurut teman tadi, setelah gue meninggalkan kantor lama untuk berkarir di dunia advertising dua tahun lalu, halaman fesyen itu mulai menurun rating-nya. Redakturnya sih berkompeten, tapi terlalu terpaku pada aturan yang berlaku di surat kabar. Jadinya adalah halaman yang miskin ide dalam menarik pembaca baru. Pembaca lama yang dulu setia membaca juga makin dewasa, bukan lagi jadi target pembacanya.

Ternyata, selain harus inovatif dan mengenal betul pembacanya dibutuhkan pula jiwa yang "bandel" untuk mendobrak pakem seperti yang gue lakukan dulu.

Bisa jadi "kebandelan" seperti itulah yang dibutuhkan insan kreatif periklanan kita supaya bisa maju.

Eh, temen gue tadi malah ketawa, "Gila, gini aja lo bahas, emang penting banget ya?". Ngajak berantem.