Tapi saya bukan Cadas, seperti yang dibilang abang penjual nasi goreng di sebelah kos-kosan saya.
Saya: “Mas, nasi goreng satu. Nggak pedas ya.”Saya saat itu memang mendengar si abang bilang “cadas”. Tapi biar saya terlihat cerdas, maka saya mengoreksi ucapannya menjadi “cerdas”. Meski saya tidak menemukan korelasi antara makan nasi goreng dengan tingkat kecerdasan seseorang. Jangan-jangan saya memang tidak terlalu cerdas.
Abang: “Masini atau dibungkus?”
Saya (bingung): “Hah? Maksudnya, saya dibungkus gitu?”
Abang: “Bukan, makan di sini atau dibungkus?”
Saya: “Oh, makan di sini aja bang.”
Abang: “Cadas ya, mas?”
Saya (makin bingung): “Hah? Apanya yang cerdas bang?”
Abang: “Bukan cerdas, mas. Tapi Cadas, cowok anti-pedas!”Saya tidak mau kalah dengan si abang. Saya menciptakan istilah baru. Saya merasa menang. Saya tertawa bangga.
Saya: “Oh, saya bukan cadas, tapi Catas, cowok tak anti-pedas!”
Abang: “Mas, kalo ngomong jangan disingkat-singkat gitu. Saya kan bingung!”Saya tersedak.
Penyebab ketidaksukaan saya dengan kepedasan adalah perut yang selalu berontak bila kemasukkan sesuatu yang berpotensi membakar lambung, seperti sambal dan spiritus. Reaksi pertama pasti sakit perut berlebihan yang akhirnya mengharuskan saya bertemu pantat dengan toilet. Kemudian efek selanjutnya adalah munculnya jerawat di bibir dan sariawan di pipi. Tidak, saya tidak terbalik menuliskannya.
Berbalik 180 derajat dengan pacar saya. Dia doyan yang pedas-pedas dan selalu menertawakan kelemahan saya yang satu ini. Sering pada saat makan, dia selalu membubuhi sambal banyak-banyak pada makanannya, kemudian bercanda dengan berlagak kekenyangan dan memaksa saya menghabiskannya.
Maka ketika saya mendengar kehebatan wasabi dalam dunia perpedasan, saya enggan sama sekali untuk menjajal pasta berwarna hijau itu. Padahal saya penggemar sushi, dan acap kali makan sushi, si hijau itu selalu ada.
Sebenarnya saya tidak punya bayangan aneh-aneh, tapi entah mengapa gambaran yang ada di otak bila saya memakan wasabi adalah adegan Bruce Benner berubah menjadi Hulk. Saya tidak ada masalah dengan badan berubah hijau, yang jadi masalah justru saya tidak pernah memakai celana spandex yang bisa melar, dan saya tidak mau pulang ke rumah dalam keadaan hijau dan telanjang.
Suatu saat, saya memberanikan diri menorehkan wasabi ke sushi saya. Eh, kok enak. Pedas, tapi nikmat. Hanya kalau terlalu banyak, rasanya menusuk hidung, tapi tidak sampai membakar lidah. Saya menunggu reaksi selanjutnya, ternyata perut tidak mengajak ke toilet. Artinya aman. Maka buat saya, kalau dibikin slogan untuk wasabi kira-kira begini bunyinya:
"Wasabi. Pedasnya pas, pilihan cerdas."
No comments:
Post a Comment